BERITA POLRI INVESTIGASI I JAKARTA — Humas Polri mengeluarkan himbauan kepada masyarakat terkait meningkatnya ancaman predator digital yang menyasar anak-anak. Pesan yang diunggah pada 13 Februari lalu melalui saluran pembaruan resmi menegaskan bahwa rasa aman saat anak bermain gadget di rumah seringkali menipu. Lingkungan digital tetap menyimpan risiko besar meski anak tidak berada di luar rumah.
Polri menjelaskan bahwa para pelaku kejahatan siber kini menggunakan metode child grooming, yakni upaya manipulasi emosional yang dilakukan secara bertahap. Berbeda dengan kekerasan fisik yang terjadi secara langsung, grooming berlangsung perlahan, membangun kepercayaan korban sebelum mengarah pada eksploitasi seksual maupun bentuk penyalahgunaan lainnya.
Modus tersebut umumnya dilakukan melalui media sosial, aplikasi pesan instan, hingga permainan daring yang sering diakses anak-anak. Pelaku memulai interaksi secara halus, berperan sebagai teman sebaya atau figur yang dianggap memahami anak, untuk kemudian mengikis batas privasi dan mendapat ruang masuk lebih dalam ke ranah personal korban.
Dalam himbauannya, Humas Polri mengingatkan orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak menganggap penggunaan gadget di rumah sebagai zona aman sepenuhnya. Orang tua dinilai perlu aktif menciptakan ruang cerita yang nyaman agar anak berani mengungkapkan interaksi mencurigakan yang mereka temui di dunia maya.
Polri juga menekankan pentingnya edukasi mengenai batasan privasi sejak usia dini. Anak perlu diberi pemahaman bahwa informasi pribadi seperti foto, alamat, lokasi, atau data diri tidak boleh dibagikan sembarangan kepada siapa pun, termasuk orang yang mereka anggap “teman daring”. Langkah ini dinilai sebagai benteng awal melawan manipulasi pelaku.
Selain peran keluarga, Polri menyerukan agar lingkungan sekitar, sekolah, dan komunitas digital turut berperan aktif dalam menciptakan pengawasan kolektif. Sinergi berbagai pihak dianggap penting untuk mendeteksi pola grooming dan mencegah terjadinya eksploitasi lebih jauh.
Melalui pesan tersebut, Polri berharap masyarakat semakin memahami bahwa keamanan anak merupakan tanggung jawab bersama. Dengan komunikasi terbuka, pendampingan yang konsisten, serta pemahaman yang benar tentang ancaman digital, anak-anak diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan aman di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Ed)




