BERITA POLRI INVESTIGASI|Bekasi – Nama Anton Priok bukan sekadar panggilan, melainkan simbol keteguhan hati, kerja keras, dan ketulusan seorang pria yang meniti hidup dari bawah hingga menjadi sosok yang disegani karena kebijaksanaannya.
Anton lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya berasal dari Surabaya dengan darah campuran Tionghoa Betawi dari Tanah Abang, sementara ibunya berdarah Serang dan Cirebon. Sekitar tahun 1970, Anton muda merantau ke Jakarta dan tinggal di kawasan Tanjung Priok, tepatnya di Jalan Tongkol, tempat banyak kerabatnya menetap.
Sejak masa sekolah di Sukabumi hingga SMA di tahun 1970-an, Anton dikenal aktif dalam organisasi Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI). Jiwa kepemimpinan dan semangat sosialnya sudah tampak sejak muda.
Awalnya, ia bekerja serabutan di kawasan Priok, termasuk di PT Anak Gumei. Saat perayaan Agustusan, Anton menjuarai lomba tenis meja di kantor tersebut. Tak disangka, prestasi itu membuatnya dipanggil oleh Direktur Utama dan diangkat menjadi staf keuangan sekitar tahun 1971. Dua tahun bekerja di sana, Anton memutuskan merantau lagi ke Sukabumi.
Dengan hanya membawa ransel tentara, Anton menumpang truk menuju perkebunan Bojong Soka. Dalam perjalanan, rasa haus yang terobati oleh air pancuran di pinggir jalan menjadi pengalaman spiritual yang membekas — tanda syukur atas nikmat sekecil apa pun.
Di Sukabumi, ia diterima bekerja di perkebunan meski tanpa ijazah. Berkat kegigihan dan disiplin tinggi, dalam tiga bulan Anton diangkat menjadi pengawas perkebunan yang luasnya mencapai ribuan hektare, lengkap dengan rumah dinas besar.
Namun semangat belajarnya tak pernah surut. Ia kembali ke Jakarta untuk menimba ilmu dan mencari pengalaman baru. Di Jakarta Selatan, Anton diterima sebagai komandan satpam di Hotel Kebayoran Inn, tanpa proses panjang — hanya karena ketegasan dan kepribadiannya yang berwibawa. Dari sanalah namanya mulai dikenal sebagai sosok jujur dan dapat dipercaya.
Suatu hari, Anton tanpa sengaja menemukan lowongan kerja Departemen Pertanian dari kertas bungkus kacang rebus yang dibelinya. Waktu pendaftaran hampir tutup, tapi tekadnya bulat. Ia melamar langsung tanpa menunggu pos.
Dengan bantuan seorang sopir dan rekomendasi dari Bang Dul, Anton bertemu dengan Ir. Nandi Hidayat, Kepala Biro Administrasi. Walau sempat salah ucap memperkenalkan diri, kejujurannya justru membuat sang pejabat simpati. Anton pun diterima setelah melewati seleksi ketat — dari ribuan pelamar, hanya 100 orang yang diterima, salah satunya adalah dirinya.
Tahun 1982, ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Empat tahun kemudian, Anton meraih gelar Insinyur dan terus mengembangkan diri. Tahun 1990, ia bekerja di Bulog Jakarta Utara, bagian pergudangan dan perkapalan, sambil melanjutkan kuliah di Akademi Pelayaran jurusan Tata Niaga hingga lulus tahun 1994 dengan gelar B.Sc.
Nama “Anton Priok” melekat karena kedekatannya dengan kawasan Tanjung Priok dan perannya sebagai penengah dalam berbagai keributan sosial di pelabuhan. Ia disegani bukan karena ilmu gaib, melainkan karena ilmu sosial dan pendekatan hati ke hati yang selalu ia pegang.
Masyarakat menghormatinya karena keteladanannya, kebijaksanaan, dan kemampuannya mendamaikan setiap perbedaan.
Kisah hidup Abah Anton Priok adalah cerminan keteguhan dan keikhlasan seorang anak bangsa yang membuktikan: keberhasilan tak hanya ditentukan oleh ijazah, tapi oleh kerja keras, kejujuran, dan hati yang tulus.




