Jejak Agus Flores, Anak Kampung Terisolasi yang Kini Mengguncang Jaringan Tambang Ilegal Nasional

BERITA POLRI INVESTIGASI|Sulteng — Raden Mas Mh Agus Rugiarto SH, atau yang dikenal sebagai Agus Flores Ular Naga, lahir di desa terisolasi Tompe, Sirenja, Sulawesi Tengah.

Masa kecilnya dilalui dalam kesederhanaan, hidup dengan makanan sagu dan ubi kayu.

Namun kehidupan yang terbatas itu justru membentuk karakter tangguh yang kelak mengantarkannya menjadi sosok yang disegani dalam gerakan penjagaan hutan dan lingkungan hidup di Indonesia.

Nama Agus Flores pernah disebut langsung oleh Presiden Joko Widodo sebagai figur yang mendapat perhatian nasional atas kepeduliannya menjaga hutan dari kerusakan dan aktivitas ilegal.

Meski demikian, Agus menegaskan bahwa pengakuan bukanlah tujuan dirinya bergerak.

“Saya tidak mau hutan rusak sejengkal pun. Sejak kecil saya sudah disebut ‘logging’, tapi justru karena itulah saya berjanji menjaga alam ini dengan sepenuh jiwa,” tegas Agus Flores kepada wartawan pada Sabtu (22/11/2025) siang.

Melihat maraknya kerusakan alam akibat pertambangan ilegal, Agus membentuk Perkumpulan Wartawan Fast Respon (PW FRN) — jaringan wartawan, relawan, dan penggiat lingkungan yang bergerak cepat ketika ditemukan indikasi perusakan hutan ataupun tambang tanpa izin.

Baginya, gerakan ini adalah tanggung jawab moral yang selalu ia sandarkan pada pesan leluhur dan keyakinannya akan pengawasan Tuhan Yang Maha Esa.

Latar belakang keluarga yang sarat nilai spiritual turut membentuk komitmen tersebut. Agus lahir dari ayah keturunan Kiai dan ibu keturunan Katolik. Perpaduan dua tradisi itu menanamkan nilai luhur yang ia pegang teguh hingga hari ini.

“Saya berjanji kepada leluhur: satu langkah pun saya tidak boleh meninggalkan komitmen menjaga alam. Bila alam rusak, maka Raja Alam yang akan bicara,” ujarnya.

Kini, perjalanan Agus Flores menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi panggilan nurani setiap anak bangsa. Dari sebuah kampung kecil bernama Tompe, ia berdiri di garis depan perjuangan melawan tambang ilegal dan kerusakan hutan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *