BERITA POLRI INVESTIGASI I Jakarta, 4 September 2026
Ketua Umum Jaga Pancasila Zamrud Khatulistiwa Galaruwa sekaligus Sekjen Kerukunan Masyarakat Hukum Adat Nusantara Kermahudatara, Santiamer Silalahi, menyerukan “restorasi jiwa bangsa sekarang juga”. Ia memperingatkan Indonesia agar tidak masuk ke proses fragmentasi sosial-politik seperti yang pernah terjadi di Yugoslavia.
Dalam pernyataannya, Santiamer menyebut kekuatan militer dan ekonomi saja tidak cukup untuk menjaga keutuhan bangsa. Yang dibutuhkan adalah nilai bersama dan keadilan sosial yang berakar pada Pancasila.
Mengutip kisah dialog Soekarno dengan Presiden Yugoslavia Josep Broz Tito di forum Gerakan Non-Blok, Santiamer menyampaikan pesan bahwa warisan terpenting seorang pemimpin bukan tentara atau ekonomi kuat, melainkan _way of life_ bangsa.
“Terlepas dari status kisah tersebut sebagai kesaksian historis yang perlu dibaca secara kritis, pesan strategisnya sangat relevan bagi Indonesia hari ini: sebuah negara yang majemuk membutuhkan nilai bersama, identitas kebangsaan, rasa keadilan, dan adab publik yang mampu mengikat masyarakat melampaui kepentingan kelompok,” ujarnya.
Ia menegaskan istilah “balkanisasi Indonesia” tidak dimaksudkan sebagai ramalan perpecahan. Istilah itu dipakai sebagai peringatan strategis ketika identitas primordial mengalahkan identitas kebangsaan, hukum kehilangan wibawa, dan kekerasan jadi alat penyelesaian konflik.
Santiamer juga merujuk penelitian di _Proceedings of the National Academy of Sciences PNAS_ yang melibatkan 1,8 juta orang di 183 negara. Penelitian itu menemukan hubungan antara kondisi sosial buruk seperti korupsi, ketimpangan, dan kekerasan dengan meningkatnya karakter kepribadian aversif atau _dark personality_.
“Jika korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan, impunitas, dan manipulasi informasi terus berlangsung tanpa koreksi efektif, masyarakat dapat mengalami normalisasi penyimpangan,” kata dia.
*Diagnosis: Indonesia Sudah Stadium 3*
Dalam analisisnya, Santiamer memetakan kondisi bangsa ke dalam 4 stadium risiko.
1. *Stadium 1 – Penyimpangan Terisolasi*: Pelanggaran masih ditolak kuat masyarakat
2. *Stadium 2 – Gejala Terlokalisasi*: Penyimpangan mulai berulang, kepercayaan ke institusi menurun
3. *Stadium 3 – Normalisasi Sistemik*: Penyimpangan dianggap biasa. Hukum dinegosiasikan
4. *Stadium 4 – Pembusukan Total*: Kematian empati total dan konflik fisik di mana-mana
“Indonesia sudah berada dalam stadium-3. Indikasinya: manipulasi hukum demi kekuasaan, eksploitasi alam tanpa nurani, dan kematian empati seperti hukum tajam ke bawah tumpul ke atas,” tegasnya.
Ia memperkirakan jika tidak ada koreksi, butuh waktu 10-15 tahun bagi Indonesia bergeser ke Stadium 4.
*Solusi: Perbaikan Atas dan Bawah*
Untuk menurunkan ke Stadium 2, Santiamer menawarkan formula 20% tindakan kunci untuk 80% dampak.
*Dari atas:*
1. Tindak tegas aparat penegak hukum yang korup
2. Sahkan UU Perampasan Aset dan UU Pembatasan Uang Tunai
3. Hentikan proyek yang menindas hak adat dan merusak alam
*Dari bawah – dimulai dari keluarga:*
1. Orang tua menghentikan budaya pamer dan penularan kebencian di depan anak
2. Mengganti pertanyaan “Kamu ranking berapa?” menjadi “Siapa yang kamu bantu hari ini?”
3. Sekolah dan asrama menghapus tradisi senioritas fisik dan kekerasan, diganti dengan mentoring berbasis adab
Ia juga menetapkan target: kasus intoleransi ke minoritas turun 80%, kasus kekerasan dan bullying di asrama 0 kasus, dan konten polarisasi di media sosial turun 60%.
“Memperbaiki keluarga dan mengawal keadilan hari ini bukan lagi sekadar pilihan moral, tapi tindakan darurat untuk bertahan hidup sebagai sebuah bangsa,” pungkas Santiamer.
Ia menutup pernyataannya dengan mengajak publik berdiskusi: langkah pertama paling realistis apa yang bisa dimulai dari lingkup keluarga hari ini.
Reporter Sastra. S



